Pesan pada Obama dari Jantung Hutan Alam Asia Tenggara
JAKARTA, KOMPAS.com — Saat Barack Obama bersiap
mengunjungi Asia untuk pertama kali sebagai Presiden Amerika Serikat,
sekitar 50 aktivis Greenpeace dari berbagai negara melakukan aksi di
jantung hutan alam Indonesia yang terancam. Mereka mendesak Obama
segera melakukan langkah nyata.
Kelompok aktivis ini
membentangkan spanduk berukuran 20 x 30 meter di area hutan yang baru
saja dirusak, bertuliskan: "Obama, Anda Bisa Menghentikan Ini." Aksi dilakukan di Semenanjung Kampar di Pulau Sumatera, tempat Greenpeace juga telah membangun Kamp Pembela Iklim (Climate Defenders Camp).
Mereka
menuntut Obama mengambil kebijakan dan bekerja sama dengan para
pemimpin negara lain untuk menghindari krisis iklim dengan cara
menghentikan deforestasi, yang merupakan penyumbang seperlima emisi gas
rumah kaca global.
Sementara itu, kelompok aktivis lainnya
merantai tubuh mereka ke tujuh ekskavator milik Perusahaan Asia Pacific
Resources International Holding Limited atau April - RGE, salah satu
perusahaan kertas terbesar di Indonesia, untuk mencegah ekskavator itu
menghancurkan hutan lebih jauh lagi.
Aksi ini terjadi pada Kamis
(12/11), dua hari sebelum Obama bergabung dengan 20 kepala negara lain
di Singapura dalam rangka Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) dan
beberapa minggu sebelum para pemimpin dunia sepakat menghasilkan
kesepakatan bersejarah untuk menghindari krisis iklim di Pertemuan
Iklim PBB, Kopenhagen, Desember mendatang.
"Greenpeace mengirim
pesan penting kepada Presiden Obama untuk melakukan langkah nyata dari
garis depan kehancuran hutan dan iklim. Dia telah berjanji untuk
melakukan langkah penting mengenai perubahan iklim, tetapi hingga
beberapa minggu menjelang pertemuan iklim PBB Desember, pemerintahannya
secara aktif menghalangi dan menunda negosiasi perubahan iklim global,"
ujar Rolf Skar, juru kampanye Hutan Greenpeace, Amerika Serikat.
"Sangat
vital bahwa Obama dan para pemimpin dunia lain menghadiri Pertemuan
Iklim PBB dan menyetujui perjanjian ambisius, adil, dan efektif yang di
dalamnya terdapat penghentian perusakan hutan alam di seluruh dunia
ini," ujanya.
Greenpeace memperkirakan bahwa untuk menghentikan
perusakan hutan di seluruh dunia, dibutuhkan dana dari negara industri
sebesar 42 miliar dollar AS per tahun untuk program perlindungan hutan.
Jumlah ini lebih kecil dari yang diberikan Pemerintah Amerika Serikat
kepada bank-bank individu dalam masa krisis finansial tahun lalu.
Perusakan
hutan tropis dan lahan gambut di Indonesia mengakibatkan terlepasnya
CO2 ke udara dalam jumlah sangat besar, membuat Indonesia tercatat
sebagai negara penyumbang polusi terbesar ketiga di dunia setelah China
dan Amerika Serikat. Aktivis juga membangun dam di kanal-kanal yang
dibangun oleh perusahaan kertas untuk menyiapkan lahan perkebunan.
Tindakan ini bertujuan untuk menghentikan pengeringan dan perusakan
lahan gambut yang sangat kaya kandungan karbon.
Tanah gambut di
kawasan ini menyimpan setidaknya dua miliar ton karbon yang akan
terlepas ke udara jika hutan dihancurkan. Aktivis akan tetap bertahan
di sana untuk melindungi hutan alam dan gambut hingga beberapa waktu ke
depan.
"Presiden Yudhoyono baru-baru ini berkomitmen untuk
mengurangi emisi dari deforestasi, dan Greenpeace berada di sini di
jantung hutan tropis untuk membantunya mewujudkan janji itu menjadi
aksi nyata," ujar juru kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Bustar
Maitar.
"Indonesia adalah kilometer nol perubahan iklim.
Menghentikan perusakan hutan di sini dan seluruh dunia tidak hanya
merupakan cara paling efektif dan hemat dalam memerangi perubahan
iklim, tetapi juga sangat penting untuk mencegah bencana iklim di masa
hidup kita," tambahnya.
Sumber : Kompa




